Sudah takdirnya, ketika gue dilahirkan
sebagai anak satu-satunya,
dan cuma gue yg perempuan
yang kemudian di usia tujuh bulan
harus ditinggalkan
oleh laki-laki yang bernama "ayah"
Lalu dengan seorang perempuan
yang bernama "ibu" yang penuh kesabaran
gue jalani hidup ini
dengan segala keluh kesah
dan hanya perempuan itu...
yang selalu setia menghibur dan membesarkan hati gue
dikala gue berduka...
dan cuma perempuan itu...
yang larut dengan kebanggaannya atas prestasi yg
gue dapatkan saat gue menerima penghargaan,
dan menjadi juara kelas
tanpa sodara, laki maupun perempuan
gue menjalani hidup tanpa pedoman
tanpa figur yg bisa gue tiru
bagaimana menjadi seorang perempuan
atau apa yang harus dilakukan
oleh seorang perempuan
ga pernah ada yg perhatiin gue
ataupun nunjukin gue harus bengini atau begitu
Gue juga ga pernah merasakan
bagaimana rasanya memiliki sodara
seringkali gue merasa iri
melihat sepupu gue
yang kadang suka berantem dan kejar-kejaran
hanya gara-gara merebutkan
sebuah mainan atau sebuah permen
juga ketika lebaran tiba
saat semua keluarga berkumpul
gue... selalu hanya berdua dengan perempuan itu
perempuan yang selalu gue panggil
dengan sebutan "ibu"
gue juga seringkali merasa nelangsa
ketika melihat temen gue asik gelendotan dengan
laki-laki yang bernama "ayah" itu
atau ketika dengan manjanya
meminta sesuatu dari lelaki itu
sesuatu yang ga pernah gue alami
tetapi kerapkali terlintas dalam mimpi-mimpi gue
buat gue, kebersamaan seperti mereka
adalah sesuatu yang langka
karena selama hidup
gue ga pernah ngrasain
bagaimana hidup dengan lelaki yang bernama ayah itu,
ataupun mendapatkan bimbingan dan perhatian darinya
mungkin bagian inilah yang selalu
membuat gue merasa ada sesuatu yang kosong
dalam hidup gue
seringkali gue melamun
enak kali ya punya ayah..?
ato punya sodara yang banyak?
walaupun...sebenarnya gue ga terlalu menyesali
karena hidup gue bersama perempuan
yang selalu gue panggil "ibu" itu
cukup berarti dan menyenangkan
bagi gue, perempuan itu tetaplah
seorang wanita yang hebat
perempuan yang telah menjadikan gue
sebagai seorang perempuan yang mandiri
perempuan yang percaya diri
dan rasanya gue ga kalah sama orang-orang
gue juga merasa
perempuan itu telah membimbing gue dengan sabar
dengan tulus mendampingi hidup gue
dengan kasih sayangnya yang ga pernah putus
hingga gue bisa seperti ini
Terima kasih ibu...
tiada berbatas kasih sayangmu...
dan tiada pamrih setiap doamu...
Tuhan... andai kini dibolehkan...
gue hanya ingin dipertemukan
dengan figur yang gue cari
yang baik dan sayang sama gue
yang bisa membimbing dan ngingetin gue
yang bisa mengisi ruang kosong itu
yang ga pernah gue miliki selama ini
untuk menghabiskan sisa umur gue
agar hidup ini menjadi lebih berarti
dan tak tersia-sia...
(gue,..ketika melamun sendirian malam ini)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment